Duduk pada sebuah kursi plastik berwarna biru tua di sudut rumah, di antara hiruk pikuknya air hujan yang jatuh beruntun mengenai atap. Sesekali menatap langit dan bertanya "Apakah hitam awan mu kali ini ikut berduka akan ku...?". Sesekali melihat halaman favorit yang ada di akun Twitter ku . membaca sebuah kutipan yang pernah kamu tuliskan kepadaku dulu. Airmata terus mengalir deras, pipi ini basah dibuatnya. Aku salah, aku lelah.
.
Baru kali ini mendengar suara yang selama ini menjadi penyemangat ku berubah lemah tanpa daya.
Sesuatu sedang terjadi padamu, aku tahu. Aku merasakannya saat kata "halo.." yang kamu ucapkan mendarat di telingaku.
Apa yang kamu rasakan wahai Banteng ku? dilema akan cinta kah yang membuat mu kaku?
cara bicara mu yang terbata-bata, aku bisa merasakan semuanya disitu. Merasakan besar ketakutan mu kehilangan nya, dan besar rasa bersalah mu kepadaku. Tak kau ucapkan pun aku tahu.
Mendengar mu bercerita akan hari-hari mu adalah hobi baru ku setelah bertemu denganmu. betapa asik nya kamu menggambarkan akan hebatnya hari mu. Mengapa hari ini aku tidak bergembira akan hal itu? mengapa aku terluka saat aku mendengarkan kata "dia" dari mulutmu?. Bukan! pendengaran ku sedang terganggu.
Salah! aku salah. Ini nyata. Pendengaran ku tidak sedang terganggu. Nafas panjang pun mulai ku hela agar sesak nya hilang. Aku merasakannya.
5 menit berlalu, kau menyudahi panggilan itu. Waktu yang singkat tapi bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi padamu. Akhirnya, waktumu untuk memilih. dan sesak ini semakin mengganggu hatiku.
Mawar mu pasrah, ia terluka dengan duri nya sendiri. Tolong aku. Aku terlalu mencintaimu.
Ingin rasanya ku copot topeng ketegaran ku di depanmu. Lihatlah betapa hati ini menangis saat kamu bilang "Aku tidak ingin kehilangan nya...." apa yang dapat aku perbuat? tidak ada. Bahkan untuk memperjuangkan hatiku saja aku tidak sanggup. aku tahu, kamu pasti lebih memilih Dia dibanding aku.
Begitu hebatnya aku menyembunyikan perasaan ku sehingga aku yang harus menenangkan mu. Memberimu semangat untuk tidak kehilangan dia, memberi tahu dirimu bahwa semua akan baik-baik saja, untukmu. Hatiku seperti hancur dicincang oleh kata-kataku sendiri. bagaimana denganku? siapa yang akan menegarkan ku? siapa yang akan memberitahu ku bahwa semua akan baik-baik saja?. Aku tenggelam dalam pahit nya mencintaimu.
Perasaan yang mengganggu itu. Perasaan yang pernah aku rasakan dulu, perasaan yang datang lebih awal dari perkiraan ku.
Aku sudah tahu, tapi aku mencoba untuk tidak perduli selama ini. Aku belum belum benar-benar siap untuk terluka lagi. Oh, Aku sudah terluka.
No comments:
Post a Comment